Orang Muslim Yang Memilih Kafir Adalah Munafik

Assalamualaikum wr wb

Orang Muslim yang memilih Kafir Sebagai pemimpin sebagai pemimpin adalah seorang munafi, mengapa demikian?

Karena mereka lebih memilih perkataan dan rayuan orang kafir untuk memilihnya daripada menuruti perkataan Allah swt.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin bagimu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpim, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Islam dalam bidang kepemimpinan diperintahkan untuk memilih orang muslim sebagai pemimpin. Di Al Maidah ayat 51 juga jelas diterangkan jika seseorang memilih seorang kafir sebagai pemimpin maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka (kafir). Astagfirullah

MAU JADI GOLONGAN KAFIR APA MAU TETAP JADI GOLONGAN MUSLIM?

Di dalam Al Quran setidaknya disebutkan 15 kali soal memilih pemimpin muslin. Islam memerintahkan untuk memilih pemimpin Muslim, kmemilih pemimpin Muslim yang memperjuangkan Islam. Ini perintah Allah swt, kata katanya jelas dan terang bukan pembohongan. Apakah ada dusta dari kata kata Allah swt? Apakah anda ingin mengingkari perintah Allah swt?

Menurut KH Didin Hafiduddin jika anda memilih seorang kafir daripada Allah swt bukankah itu merupakan kemunafikan jika anda masih menyebut diri sebagai seorang muslim. Karena anda mengingkari perintah Allah swt dan jika seseorang mengaku muslim tetapi mengingkari Al Quran, Al Quran menyebutnya sebagai munafik.

“Dan barang siapa yang mengingkarinya Alquran menyebut mereka adalah orang-orang munafik”, ujarnya

Nahdlatul Ulama memiliki panduan dalam memilih pemimpin. Kaedah tersebut dihasilkan pada Muktamar NU tahun 1999.

“Tentang kaedah memilih pemimpin, NU sudah memiliki panduan yaitu hasil Muktamar NU 1999, yang berbunyi ‘Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam kecuali dalam keadaan darurat,” jelas Katib Syuriyah PBNU, Dr. Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangan persnya.

Ingat Darurat, apakah sekarang dalam keadaan darurat ? Tentu tidak, sehingga jelas saat ini wajib hukumnya untuk mendengar dan mematuhi perintah Allah swt, mematuhi pendapat para ulama baik itu NU maupun Muhammadiyah yang mengatakan tidak boleh memilih pemimpin non islam.

Jika masih tidak mendengar perintah Allah dan pendapat para Ulama, bukankah sudah layak jika dikatakan sebagai seorang munafik. Dan yang namanya seorang munafik hukumannya adalah di siksa di neraka yang paling bawah, hal ini sesuai dengan firman Allah swt  pada surat An-Nisaa 145 :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا (١٤٥)

Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Semoga artikel ini dapat menjadi pencerahan bagi kita semua, sekian dari saya wassalamualaikum wr wb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *