Kewajiban Tawakal Bagi Umat Islam

Kewajiban umat islam secara umum dalam hal tawakal adalah membenarkan Allah mengenai apa yang dia beritakan. Yaitu pembagian rizki dan jaminan kecukupan. Allah mendatangkan rizki kepada mereka dan menyampaikan kebutuhan hidup yang dia bagikan pada saat yang dia tetapkan. Pembenaran itu membuat tawakal mereka kuat dalam hati dan kebimbangan sirna dari hati mereka. Keyakinan mereka jernih dan hakikat pengetahuan menjadi kokoh, bahwa Allah maha mencipta dan memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, memberi dan tidak memberi serta penguasa satu satunya.

Jika pengetahuan tersebut benar didalam hati dan tetap dalam ikatan iman, maka lidah akan mengucapkannya sebagai pengakuan. hati kembali kepada pengetahuan itu ketika ingat dan ia disebut bertawakal.

Jika keyakinan terhadap sifat sifat tersebut sirna dari hati, maka lidah tidak akan mengakuinya dan hati akan bimbang dan ragu, sehingga hati tidak lagi bertawakal. Hati terurai oleh sesuatu yang mencerai beraikannya dan ia tertimpa sifat yang tercela.

Hal itu karena yang membuat hati di puji dengan sifat tawakal adalah pengakuan lidah dan pengetahuan yang kuat yang menghilangkan kebimbangan. Jika hati kehilangan sedikit dari kedua hal itu, maka ia akan berubah menjadi kebalikan dari hal tersebut yakni hati yang tercela.

Kebalikan dari hal tersebut adalah hati mendustakan apa yang dia benarkan atau bimbang tentang sesuatu yang ia yakini atau menyalahkan apa yang dia tahu dengan pasti. Jika hati sudah tertimpa sedikit dari perkara perkara ini, maka ia tidak lagi terpuji. Ia berubah menjadi tercela dan tidak lagi beriman serta bertawakal kepada Allah.

Allah swt berfirman dalam Adz dzariyat ayat 22-23, yang artinya :

“Dan dilangit terdapat (sebab sebab) rizkimu dan terdapat apa yang dijanjikan kepadamu. Mada demi tuhan langit dan bumi, sesunggunya apa yang dijanjika itu adalah benar benar perkataan yang kamu ucapkan.”

Allah bersumpah demi dirinya, bahwa dia membagikan rizki kepada seluruh makhluk dan memberikan jaminan kecukupan bagi mereka. Maka kita sebagai makhuknya harus membenarkan dan mempercayai apa yang difirmankan dan dijamin oleh Allah swt.

Barang siapa membenarkan hal itu, maka berkat pembenaran dan imannya, dia disebut mukmin yang bertawakal dan barang siapa yang mendustakan atau bimbang, maka disebabkan sikapnya ini dia menentang dan tidak percaya kepada  apa yang difirmankan oleh Allah swt dalam kitabknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *